SELAMATKAN KAWASAN SEKITAR BENDUNGAN BATUTEGI

SELAMATKAN KAWASAN SEKITAR BENDUNGAN BATUTEGI MELALUI PEMBANGUNAN EKOWISATA TERPADU
Oleh : Syamsurrizal Muhtar ( Pemerhati Lingkungan )

Banyak contoh di Indonesia, Bendungan-bendungan yang telah dibangun mengalami pendangkalan yang lebih cepat sebagai akibat tidak dikendalikannya aktivitas pembangunan, Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan yang menyebabkan erosi yang berlebihan di kawasan / daerah tangkapan air bendungan. Akhirnya, Masa manfaat maksimal bendungan lebih pendek dari yang semula direncanakan.


Sejak dini haruslah dilakukan upaya-upaya nyata untuk menyelamatkan Bendungan Batutegi. Salah satu Persoalan dasarnya adalah Bagaimana penyelamatan ini dilaksanakan dengan pendekatan Kawasan ( yang utuh ), dan bukan Sektoral ; Pekerjaan Umum dan Kehutanan (BP.DAS), karena status tanah sekitar bendungan dan status hutan lindung.



Oleh karena itu, dipandang perlu untuk mengelola kawasan sekitar batutegi melalui Pembangunan yang terpadu. Maksudnya, tidak sebatas koordinasi dan koordinasi, serta terpadunya sekedar di atas meja rapat.

Salah satu tujuan dan manfaat dari Bendungan Batutegi adalah untuk Pariwisata. Untuk itulah, digagas suatu model pendekatan dari aspek konservasi ( yaitu perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan yang terkendali ), Pariwisata dan Pendidikan, yaitu dengan PEMBANGUNAN EKOWISATA TERPADU di BATUTEGI


Yang dimaksud dengan Ekowisata terpadu itu :

1. Menyelamatkan Hutan dan Air, serta ekosistemnya
2. Membangun pariwisata yang berwawasan lingkungan hidup dan alam
3. Pendidikan Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup

Strategi Utama dalam Konservasi Hutan Kawasan Batutegi adalah :

Memulihkan dan Membangun Hutan dengan menanam Sepuluh juta pohon dalam Sepuluh ribu hektar di Kawasan Konservasi Bendungan Batutegi – Lampung yang dikelola secara terpadu.

Pemanfaatan Kawasan Hutan Konservasi Batutegi, :


1. Membangun kembali hutan Alam dan ekosistemnya ( arboretum ) ;

yaitu areal koleksi contoh hidup berbagai jenis pohon, pelestarian jenis pohon secara ex-situ, tempat praktek pengenalan jenis pohon, sumber benih dalam jumlah terbatas, sekaligus sebagai tempat wisata ilmiah.

2. Kebun Raya ( Kumpulan / Koleksi Tanaman dan wisata taman )


3. Taman Safari ( Taman Satwa )


4. Pendidikan Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup


5. Taman Bunga dan Buah


6. Wisata Air dan Pengembangan Perikanan ( Keramba jaring apung ),


7. Penginapan alam ( ecolodge ) ; berupa pondok, rumah pohon ( tree-house ), dan rumah rakit ( terapung ).


Ecolodge itu secara sederhana diartikan sebuah penginapan bernuansa alami yang membawa misi pengetahuan dan pendidikan lingkungan atau konservasi alam.


Oleh karena itu, dalam pengelolaannya harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :

1. View ( pemandangan ) dan suasana alam yang menarik
2. Tidak merubah tapak dan bentang alam secara berlebihan
3. Bangunan penginapan yang sederhana yang menyatu dengan alam dan selaras dengan budaya dan ekosistem setempat, bisa berupa pondok-pondok dan atau rumah pohon ( tree house ). Walaupun demikian, fasilitas sanitasi dan interiornya tetap harus memenuhi standar minimal kelayakan dan kepatutan. Istilah kerennya Pondok berbintang empat ( jenderal kali ? )
4. Tersedia Paket-paket pendidikan Konservasi alam, sehingga Customer penginap ( wisatawan ) dapat memilih diantara paket mana yang akan ”dibeli” dan lama bermalam. Jadi, tidak terima penginap yang sekedar untuk bermalam ataupun kemalaman.
5. Mempertahankan suasana alami,
• menghindari kebisingan; tanpa televisi ataupun radio, tanpa terdengar
suara mesin listrik ( genset ),
• memperkaya tanam tumbuh dengan tanaman setempat
6. Bekerja sama dengan masyarakat setempat ( istilah para jagonya ; Community Based Management / Pengelolaan yang bertumpu pada peran masyarakat ), misalnya dengan mengembangkan tanaman sayuran organik, ternak kambing ( yang bisa dimanfaatkan susu dan biogas-nya ), dan perikanan.


Kesemua blok pemanfaatan akan dirancang dalam satu master-plan, dan dikelola oleh satu unit pelaksana, yaitu Badan Pengelola Ekowisata Batutegi berupa Perusahaan BUMD dan atau Komite Pariwisata Lampung, serta Lembaga Swadaya Masyarakat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar